Jumat, 15 Maret 2013

Pondok Pesantren Modern
AL-ISTIQAMAH
N g a t a B a r u
Latar Belakang
Ngata Baru adalah sebuah desa yang terletak lebih kurang 14 Km ke arah timur Kota Palu dengan radius 4 Km dari perumahan penduduk kelurahan Petobo Selatan, tepatnya berada di lereng pegunungan Masomba. Nama Ngata baru dikalangan masyarakat Kaili yang mendiami lembah Palu, utamanya yang telah berusia 50 tahun kurang mengenalnya, karena memang wilayah ini sebelumnya terkenal dengan nama Kapopo. Ketika Kapopo menjadi lokasi pusat Pekan Penghijauan Nasional yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1990 nama Kapopo baru resmi menjadi Ngata Baru ( Kampung Baru ).
Tepat pada tanggal 2 Mei 1993 KH. M. Arif Siraj Lc. mulai mendirikan Pondok Pesantren Modern Al– Istiqamah di atas tanah seluas lebih kurang 3 Hektar. Sebenarnya, rencana pendiriannya sudah dirintis sejak bulan Maret 1993, sebagai upaya mewujudkan adanya “ Seribu Gontor “ di Indonesia yang mampu membina dan mendidik generasi muda Islam dengan dasar iman dan taqwa yang memiliki pengetahuan luas dan keterampilan hidup yang berdaya guna, sehingga dapat tampil sebagai muslim yang mampu menegakkan kalimat Allah dimanapun mereka berada.
Tanggal 11 Juli 1993, pondok ini mulai dibuka pendidikannya yang mana murid baru pada tahun ini berjumlah 17 orang dengan Tingkat pendidikannya adalah Tarbiyatu – l – Muallimin Al – Islamiyah ( TMI ) dengan lama belajar 6 tahun bagi yang berijazah MI/SD dan 4 tahun bagi yang berijazah SLTP/SMU.

Sejak tahun 1994 hingga saat ini, Pondok Modern Gontor telah memberikan bantuan berupa tenaga edukasi dalam rangka meningkatkan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Pesantren ini.

Dengan adanya bantuan edukasi tersebut, pondok pesantren ini maju pesat dalam perkembangannya dari tahun ke tahun. Dan kepercayaan masyarakat luas semakin bertambah untuk menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah. Hingga saat ini santri dan santriwati berjumlah 493 orang, yang berasal dari beberapa daerah kabupaten di Sulawesi Tengah yang semua santrinya diasramakan di dalam pondok dan dikelola serta dibina 1 x 24 jam dengan disiplin yang ketat.

Dengan dilandasi Panca Jiwa Pondok Pesantren, utamanya jiwa Ukhuwwah Islamiyyah, Pondok Pesantren Modern Al-istiqamah berupaya tampil mewujudkan model pembinaan pondok pesantren yang mempersiapkan generasi Islam yang siap pakai di masyarakat dan diterima oleh semua golongan. Hal ini sesuai dengan motto pondok ini yaitu Berdiri Di Atas dan Untuk Semua Golongan.

Sebagai pondok alumni Gontor, Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngata Baru selalu berkiprah menciptakan alumni yang cakap, trampil, berilmu luas, ikhlas, beriman dan bertaqwa serta bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Keadaan Masyarakat Sekitar
Lokasi tempat berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah merupakan tempat yang cukup strategis. Karena selain berada di daerah dataran tinggi yang sejuk dan jauh dari keramain dan hiruk pikuknya kota, juga dapat mudah dijangkau dari kota Palu dan berdekatan dengan bandar udara Mutiara Palu.

Dari segi ekonomi, masyarakat sekitar pondok pesantren masih tergolong pada tingkat menengah ke bawah, demikian halnya dengan ilmu pengetahuan agamanya. Walaupun mayoritas beragama islam, namun kehidupan masyarakat agamis yang taat menjalankan agamanya belum nampak dan sangat kurang sekali.

Kehadiran Pondok Pesantren ini bagai hujan setelah kemarau panjang. Karena telah membawa pengaruh positif bagi masyarakat sekitar di desa Ngata Baru.

Organisasi Kelembagaan
Dalam organisasi kelembagaan, Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah menjadikan Kyai sebagai figur sentral sebagaimana pondok-pondok pesantren di Indonesia pada umumnya yang menentukan arah kebijakan pondok yang dipimpinnya.

Sejak awal berdirinya, Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah telah mempunyai struktur organisasi pengurus yang jelas karena pola pendidikan dan pengelolaannya telah ada yakni sesuai dengan yang diselenggarakan di Pondok Modern Gontor Jawa Timur.

Struktur organisasi tersebut terdiri dari Badan Wakaf yang merupakan lembaga tertinggi dalam organisasi Balai Pendidikan Pondok Pesantren yang berwenang memilih dan mengangkat serta mengganti pimpinan pondok dan atau lembaga – lembaga Balai pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai Pimpinan Pondok yang dibantu oleh Sekretaris, Direktur TMI, Pengasuhan Santri, Yayasan Pemeliharaan Perluasan dan Peningkatan Wakaf (YP3W) yang menangani pembangunan fisik pondok dan melakukan berbagai upaya mandiri untuk mencukupi segala sarana dan prasarana serta berbagai kebutuhan lain demi berlangsungnya proses pendidikan dan pengajaran di Pondok.

Dalam kegiatan santri, di bentuk juga organisasi santri yaitu Organisasi Pelajar Pondok Modern Al-Istiqamah (OPPMI) yang merupakan kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan santri, sebab berorganisasi di Pondok berarti pendidikan untuk mengurus diri sendiri dan tentu saja orang lain.

Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pondok dan Ciri Khas
Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah tidak mengenal adanya garis dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, tapi keduanya dipadukan dan diajarkan secara penuh dengan prosentase 100 % ilmu pengetahuan agama dan 100 % ilmu pengetahuan umum. Sedangkan methode pengajarannya dibidang ilmu agama dan bahasa asing ( Arab, Inggris) menggunakan methode langsung ( Direct Methode ) tanpa terjemahan kedalam bahasa Indonesia atau yang lainnya.

Adapun Tarbiyatu-l-Muallimin Al-Islamiyah adalah Sekolah Pendidikan Guru Islam yang hampir sama dengan Sekolah Normal Islam, di Padang Panjang Sumatra Barat. Model ini kemudian dipadukan kedalam sistem Pendidikan Pondok Pesantren. Pelajaran agama seperti yang diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya yang diberikan di kelas-kelas, tetapi pada saat yang sama para santri diharuskan tinggal di asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan Pondok Pesantren. Proses Pendidikan berlangsung selama 24 jam, sehingga “ segala yang dilihat, didengar, dirasa dan dialami oleh santri di pondok ini tidak lepas dari nilai-nilai pendidikan“. Pendidikan ketrampilan, latihan pidato (retorika), kepramukaan, olah raga, teater, latihan berorganisasi dan lain–lain merupakan bagian-bagian yang tak bisa terpisahkan dari kegiatan santri di pondok.
Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah mementingkan pendidikan dari pada pengajaran. Arah dan tujuan pendidikan di pondok pesantren ini ialah Kemasyarakatan, Hidup sederhana, Tidak berpartai dan tujuan pokoknya adalah "ibadah tholabu-l-ilmi, bukan untuk menjadi pegawai. Tentang bagaimana nanti dapat menjadi pegawai atau tidak, tingkat berapa, sama sekali tidak menjadi dasar pemikiran atau perhitungan. Bahkan diharapkan agar para pelajar kelak menjadi orang yang dapat memimpin suatu usaha atau organisasi atau dapat memimpin teman-temannya yang membutuhkan pimpinan untuk berwiraswasta dengan mental pesantrennya yang kuat dan jiwa karakter yang tangguh.
Pelajaran di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah berisi pengetahuan agama dan pengetahuan umum tingkat lanjutan.

Ada beberapa mata pelajaran yang ada di SMP, SMA, MTs dan MA yang sengaja ditinggalkan guna diisi dengan pelajaran bahasa Arab. Misalnya pelajaran bahasa Jerman, Prancis, dan lainnya. Sebaliknya, bahasa Arab dan Agama diajarkan sebanyak mungkin. Demikian juga halnya olah raga dan kesenian cukup di luar jam pelajaran (Extra Curriculer). Tingkatan pelajaran agama dan bahasa Arab tidak mudah dikatakan. Target yang jelas adalah tamatan 6 (enam) tahun itu telah dapat memahami sendiri buku-buku, kitab-kitab pelajaran agama yang berbahasa Arab.
Sedangkan sistem yang dipergunakan di Tarbiyatul Mu'allimin Al-Islamiyah (TMI) Al-Istiqamah berbeda dari sistem yang ada di beberapa pondok pesantren lain. Bahasa Arab pada kelas II ke atas sudah menjadi bahasa pengantar dalam mengajarkan pengetahuan agama.
Kitab-kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah tidak boleh menjadi ukuran tentang mutu yang sebenarnya dari pelajaran. Buku Al-Qira'atu-r-Rasyidah jika diajarkan secara terjemah biasa ke dalam bahasa Indonesia, satu buku dapat diselesaikan dalam sehari semalam.
Tetapi jka diajarkan menurut sistem yang sebenarnya tidaklah semudah itu. Karena pelajaran yang sebenarnya ialah : "Usaha untuk supaya kata-kata dan susunan yang ada dalam buku itu, menjadi milik si murid dan dapat dikuasainya".Tegasnya, murid-murid itu dapat mempergunakan kata-kata itu sesuai pada tempat-tempatnya, jadi bukan isi ceritanya yang diambil.
Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah berusaha agar supaya anak-anak itu dapat memahami sendiri kitab-kitab yang banyak itu, dan guru hanya memberikan arti yang terkandung di dalam kitab-kitab itu. Tidak memberikan nasi yang sudah masak untuk dimakan kemudian habis, tetapi memberikan benih-benih padi yang selanjutnya dapat tumbuh dan kemudian dibuat nasi sendiri dengan tidak habis-habisnya.
Pondok memberikan "kunci" untuk membuka sendiri perbendaharaan ilmu yang terkandung dalam buku-buku atau kitab-kitab yang banyak itu. Dan sebenarnya ketinggian dan kemajuan pelajaran sekolah manapun juga, tidak dapat hanya dilihat/diukur dari rencana pelajarannya, kurikulumnya atau kitab-kitabnya. Itulah sebabnya, pada awal mula siswa sekolah, siswa belum perlu membeli kitab banyak-banyak. Tetapi setelah menguasai kunci-kunci itu, dapat membeli kitab-kitab yang dapat difahami sendiri dalam jumlah yang tidak terbatas.
Ciri khas pondok yang membedakan dengan pondok pesantren lain adalah cara mengajar dan belajarnya.
Diantara perbedaan yang amat jelas tersebut ialah :
  1. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama.
  2. Dalam pelajaran bahasa Arab dan Inggris.
  3. Para siswa (santri) tinggal di dalam asrama yang berdisiplin.
Pelajaran permulaan di TMI (Tarbiyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah) Al-Istiqamah cukup didasari dengan ilmu pengetahuan dasar. Sedangkan pengetahuan agama harus didasari dengan dapat membaca Al-Qur'an dengan lancar dan baik, dapat menulis Arab dengan lancar. Apabila kedua dasar itu tidak seimbang, sulit untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
Sejak dini pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris diajarkan secara aktif; artinya terus dipakai untuk bercakap-cakap dalam pergaulan sampai menjadi bahasa pengantar dalam beberapa mata pelajaran, bukan sekedar mengerti atau pasif. Jadi tidak hanya sekedar bercakap-cakap. Ujian-ujian kelas I dan II, banyak yang harus dijawab dengan bahasa Arab. Metode yang dipakai untuk keduanya itu ialah metode aktif, metode modern, metode lisan.
Dengan demikian, murid-murid dapat menguasai bahasa pengantar yaitu bahasa Arab maupun Inggris dengan cepat tanpa harus takut untuk berbuat salah dalam berbahasa.
Suasana dan Cara Hidup Di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngata Baru
Kehidupan dalam pondok pesantren umumnya dijiwai oleh suasana yang sengaja diciptakan untuk mewarisi semua gerak langkah dan perbuatan Kyai, guru, santri dan semua orang yang terkait dengan pondok pesantren. Suasana yang dimaksud dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa sebagai berikut :
  1. Jiwa Keikhlasan artinya, sepi ing pamrih atau tidak karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu, semata-mata hanya karena untuk ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren. Kyai ikhlas mengajar, santri ikhlas belajar dan para pembantu ikhlas dalam membantu. Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam. Dengan demikian terdapatlah suasana hidup yang harmonis antara Kyai yang disegani dan santri yang taat dan patuh, cinta serta hormat dengan segala keikhlasannya.
  2. Jiwa Kesederhanaan. Kehidupan dalam pondok pesantren diliputi suasana kesederhanaan tetapi agung. Sederhana bukan berarti pasif dan bukan pula kemelaratan atau kemiskinan. Kesederhanaan dimaksud lebih mengarah kepada kesiapan dan kemampuan jiwa untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang ada sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mubazir. Maka dibalik kesederhanaan itu terpancarlah jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup, dan pantang mundur dalam segala keadaan, bahkan disinilah hidup tumbuhnya karakter kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.
  3. Jiwa Kemandirian. Selalu belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri hal itu bukan hanya berlaku bagi santri, tetapi juga pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan tidak terlalu menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasih orang lain atau nanti berjalan kalau ada bantuan dari orang lain.
Namun tidak pula bersikap kaku sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu.
  1. Jiwa Ukhuwwah Islamiyah. Kehidupan di pondok pesantren diliputi persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan dan kesusahan dirasakan bersama dengan jalinan perasaan keagamaan. Ukhuwwah ini bukan saja selama di dalam pondok pesantren itu sendiri, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat sepulangnya dari pondok pesantren.
  2. Jiwa Bebas. Bebas dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya, dalam memilih jalan hidup di dalam masyarakat kelak bagi para santri, dengan jiwa besar dan optimis menghadapi kehidupan. Bebas dalam arti tidak kehilangan arah, tujuan dan prinsip, kebebasan dalam batas-batas yang dibolehkan ajaran agama.

Semua jiwa tersebut itulah yang harus mewarnai suasana kehidupan di Pondok Pesantren dan diharapkan menjadi bekal pokok bagi para santri di tengah-tengah masyarakat kelak ketika selesai di pondok pesantren dan kembali ke masyarakat.






0 komentar:

Posting Komentar